Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang
terdapat pada tanaman hijau, kecuali alga. Flavonoid yang lazim ditemukan pada
tumbuhan tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan
O-glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C- dan O-glikosida, khalkon
dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin,
auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol,
flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya
Menurut Markham (1988), flovonoid tersusun dari dua cincin aromatis yang dapat
atau tidak dapat membentuk cincin ketiga dengan susunan C6-C3-C6 .
Flavonoid juga dikenal
sebagai vitamin P dan citrin, dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh
sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga yang dihasilkan. Bagian tanaman yang
bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh
rhizobia, bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan
nitrogen dalam tanah.
Senyawa flavonoid
adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Senyawa-senyawa
ini merupakan zat warna merah, ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang
ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan
dengan warna kuning, kuning jeruk, dan merah dapat ditemukan pada buah,
sayuran, kacang, biji, batang, bunga, herba, rempah-rempah, serta produk pangan
dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun, teh, cokelat, anggur merah, dan
obat herbal.
Bagi tumbuhan, senyawa
flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama, penyakit, herbivori,
kompetisi, interaksi dengan mikrobia, dormansi biji, pelindung terhadap radiasi
sinar UV, molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi, serta molekul sinyal
pada polinasi dan fertilitas jantan.
Flavonoid
dikatakan antiksidan karena dapat menangkap radikal bebas dengan membebaskan
atom hydrogen dari gugus hidroksilnya. Aksi radikal
memberikan efek timbulnya berbagai penyakit yang berbahaya bagi tubuh. Tubuh
manusia tidak mempunyai sistem pertahanan antioksidatif yang lebih sehingga
apabila terkena radikal bebas yang tinggi dan berlebih, tubuh tidak dapat
menanggulanginya. Saat itulah tubuh manusia membutuhkan antioksidan dari luar (eksogen)
yang dapat dilakukan dengan asupan senyawa yang memiliki kandungan antioksidan
yang tinggi melalui suplemen, makanan, dan minuman yang dikonsumsi.
Namun, globalisasi yang merupakan zaman sintetik membuat manusia khawatir terhadap antioksidan buatan yang pada umumnya memberikan efek samping yang tidak ringan.
Namun, globalisasi yang merupakan zaman sintetik membuat manusia khawatir terhadap antioksidan buatan yang pada umumnya memberikan efek samping yang tidak ringan.
Globalisasi membuat
masyarakat menjadi semakin pandai dan kritis termasuk dalam memilih produk
makanan atau minuman yang akan dikonsumsi. Berkembangnya berbagai jenis
penyakit terutama yang diakibatkan oleh pola konsumsi makanan yang salah,
mendorong masyarakat kembali ke alam. Dengan kata lain, masyarakat kini mulai
beralih pada upaya alami dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang
mengandung antioksidan alami yang tidak menimbulkan efek samping atau mungkin
ada efek samping tetapi dengan efek yang relatif ringan. Jadi, antioksidan
alami menjadi alternatif yang lebih diminati oleh masyarakat daripada
antioksidan sintetik.
Klasifikasi Senyawa Flavonoid
Klasifikasi flavonoid
sangat beragam, di antaranya ada yang mengklasifikasikan flavonoid menjadi
flavon, flavonon, isoflavon, flavanol, flavanon, antosianin, dan kalkon. Lebih
dari 6467 senyawa flavonoid telah diidentifikasi dan jumlahnya terus meningkat.
Kebanyakan flavonoid berbentuk monomer, tetapi terdapat pula bentuk dimer
(biflavonoid), trimer, tetramer, dan polimer. Istilah flavonoid diberikan
untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon, yaitu nama dari
salah satu flavonoida yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan. Senyawa-senyawa
flavon ini mempunyai kerangka 2-fenilkroman, dimana posisi orto dari dari
cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1,3 diarilpropana
dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang
baru (cincin C).
Senyawa-senyawa
flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari
rantai propane dari system 1,3-diarilpropana. Flavon, flavonol dan antosianidin
adalah jenis yang banyak ditemukan di alam sehingga sering disebut sebagai
flavonoida utama. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai
tingkat hidroksilasi, alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur
tersebut. Senyawa-senyawa isoflavonoida dan neoflavonoida hanya ditemukan
dalam beberapa jenis tumbuhan, terutama suku leguminosae. Masing-masing
jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavonoida
mempunyai beberapa cirri struktur yaitu: cincin A dari struktur flavonoida
mempunyai pola oksigenasi yang berselang-seling yaitu pada posisi 2,4 dan 6.
Cincin B flavonoida mempunyai satu gugus fungsi oksigen pada posisi para atau
dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di
meta. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa
sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosiklik dalam
senyawa trisiklis. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri
dari 15 atom karbon, dimana dua cincin benzene (C6) terikat pada suatu
rantaipropana (C3) sehingga membentuk suatu susunan C6-C3-C6. Susunan ini dapat
menghasilkan tiga jenis struktur senyawa flavonoida, yaitu:
1. Flavonoida atau 1,3-diarilpropana
Beberapa
senyawa flavonoida yang ditemukan di alam adalah sebagai berikut:
·
Antosianin
·
Flavonol
·
Flavonon
·
Khalkon
·
Auron
·
Dihidrokhalkon.
·
Flavon
2. Isoflavonoida atau 1,2-diarilpropana.
Isoflavon terdiri atas
struktur dasar C6-C3-C6, secara alami disintesa oleh tumbuh-tumbuhan dan
senyawa asam amino aromatik fenilalanin atau tirosin. Biosintesa tersebut
berlangsung secara bertahap dan melalui sederetan senyawa antara yaitu asam
sinnamat, asam kumarat, calkon, flavon dan isoflavon. Berdasarkan biosintesa
tersebut maka isoflvon digolongkan sebagai senyawa metabolit sekunder.
Isoflavon termasuk dalam kelompok flavonoid (1,2-diarilpropan) dan merupakan
kelompok yang terbesar dalam kelompok tersebut. Meskipun isoflavon merupakan
salah satu metabolit sekunder, tetapi ternyata pada mikroba seperti bakteri,
algae, jamur dan lumut tidak mengandung isoflavon, karena mikroba tersebut
tidak mempunyai kemampuan untuk mensintesanya. Jenis senyawa isoflavon di alam
sangat bevariasi. Diantaranya telah berhasil diidentifikasi struktur kimianya
dan diketahui fungsi fisiologisnya, misalnya isoflavon, rotenoid dan kumestan,
serta telah dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan. Berbagai potensi senyawa
isoflavon untuk keperluan kesehatan antara lain:
·
Anti-inflamasi
·
Anti-tumor/Anti-kanker
·
Anti-virus
·
Anti-allergi
·
Penyakit kardiovaskuler
·
Estrogen dan Osteoporosis
·
Anti kolesterol
3. Neoflavonoida atau
1,1-diarilpropana
Neoflavonoid
meliputi jenis-jenis 4-arilkumarin dan berbagai dalbergoin
Penggolongan Flavonoid Berdasarkan
Jenis Ikatan
a.
Flavonoid O-Glikosida
Pada senyawa ini gugus
hidroksil flavonoid terikat pada satu gula atau lebih dengan ikatan hemiasetal
yang tidak tahan asam, pengaruh glikosida ini nenyebabkan flavonoid kurang
reaktif dan lebih mudah larut dalam air. Gula yang paling umum terlibat adalah
glukosa disamping galaktosa, ramilosa, silosa, arabinosa, fruktosa dan
kadang-kadang glukoronat dan galakturonat. Disakarida juga dapat terikat pada
flavonoid misalnya soforosa, gentibiosa, rutinosa dan lain-lain.
b. Flavonoid
C-Glikosida
Gugus gula terikat
langsung pada inti benzen dengan suatu ikatan karbon-karbon yang tahan asam.
Lazim di temukan gula terikat pada atom C nomor 6 dan 8 dalam inti flavonoid.
Jenis gula yang terlibat lebih sedikit dibandingkan dengan O-glikosida. Gula
paling umum adalah galaktosa, raminosa, silosa, arabinosa.
c. Flavonoid
Sulfat
Senyawa flavonoid yang
mengandung satu ion sulfat atau lebih yang terikat pada OH fenol atau gula,
Secara teknis termasuk bisulfate karena terdapat sebagai garam yaitu flavon
O-SO3K. Banyak berupa glikosida bisulfat yang terikat pada OH fenol yang mana
saja yang masih bebas atau pada guIa. Umumnya hanya terdapat pada Angiospermae
yang mempunyai ekologi dengan habitat air.
d. Biflavonoid
Senyawa ini mula-mula
ditemukan oleh Furukawa dari ekstrak daun G. biloba berupa senyawa berwarna
kuning yang dinamai ginkgetin (I-4’, I-7-dimetoksi, II-4’, I-5, II-5,
II-7-tetrahidroksi [I-3’, II-8] biflavon). Biflavonoid (atau biflavonil,
flavandiol) merupakan dimer flavonoid yang dibentuk dari dua unit flavon atau
dimer campuran antara flavon dengan flavanon dan atau auron. Struktur dasar
biflavonoid adalah 2,3-dihidroapigeninil-(I- 3′,II-3′)-apigenin. Senyawa ini
memiliki ikatan interflavanil C-C antara karbon C-3′pada masing-masing flavon.
Beberapa biflavonoid dengan ikatan interflavanil C- O-C juga ada. Biflavonoid
terdapat pada buah, sayuran, dan bagian tumbuhan lainnya.. Hingga kini jumlah
biflavonoid yang diisolasi dan dikarakterisasi dari alam terus bertambah, namun
yang diketahui bioaktivitasnya masih terbatas. Biflavonoid yang paling banyak
diteliti adalah ginkgetin, isoginkgetin, amentoflavon, morelloflavon,
robustaflavon, hinokiflavon, dan ochnaflavon. Senyawa- senyawa ini memiliki
struktur dasar yang serupa yaitu 5,7,4’-trihidroksi flavanoid, tetapi berbeda
pada sifat dan letak ikatan antar flavanoid
Senyawa Flavonoid
Pada Simplisia Tanaman
Flavonoid sebenarnya
terdapat pada semua bagian tumbuhan termasuk daun, akar, kayu, kulit, tepungsari,
nektar, bunga, buah dan biji. Hanya sedikit catatan yang melaporkan flavonoid
pada hewan, misalnya dalam kelenjar bau berang-berang, propilis (sekresi
lebah), sayap kupu-kupu, yang mana dianggap bukan hasil biosintesis melainkan
dari tumbuhan yang menjadi makanan hewan tersebut, Senyawa antosianin sering
dihubungkan dengan warna bunga tumbuhan. Sianidin umumnya terdapat pada suku
Gramineae. Senyawa biflavonoid banyak terdapat pada subdivisi Gymnospernae
sedang isoflavonoid pada suku leguminosae. Pada tumbuhan yang mempunyai
morfologi sederhana seperti lumut, paku, dan paku ekor kuda mengandung senyawa
flavonoid O-GIikosida, flavonol, flavonon, Khalkon, dihidrokhalkon, C-Glikosida.
Angiospermae mengandung senyawa flavonoid kompleks yang lebih banyak.
Berikut beberapa contoh
tanaman yang mengandung flavonoid:
·
Kembang Sepatu
·
Mahoni
·
Nangka
·
Remak Daging
·
Temu Putih
·
Kulit kina
·
Gandarusa
·
Sidaguri
Sifat Fisika dan Kimia Senyawa
Flavonoid
Flavonoid merupakan
senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan
dapat larut dalam basa, dan karena merupakan senyawa polihidroksi(gugus
hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar
seperti metanol, etanol, aseton, air, butanol, dimetil sulfoksida, dimetil
formamida. Disamping itu dengan adanya gugus glikosida
yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid
mudah larut dalam air.
Pemisahan senyawa
golongan flavonoid berdasarkan sifat kelarutan dalam berbagai macam pelarut
dengan polaritas yang meningkat adalah sebagai berikut :
1. Flavonoid bebas dan
aglikon,dalam eter .
2. O-Glikosida,dalam
etil asetat.
3. C-Glikosida dan
leukoantosianin dalambutanol dan amil alkohoI.
Oleh
karena itu banyak keuntungan ekstraksi dengan polaritas yang meningkat.
Isolasi dan Identifikasi Flavonoid
1.
Isolasi Dengan metanol
Terhadap bahan yang
telah dihaluskan, ekstraksi dilakukan dalam dua tahap. Pertama dengan
metanol:air (9:1) dilanjutkan dengan metanol:air (1:1) lalu dibiarkan 6-12 jam.
Penyaringan dengan corong buchner, lalu kedua ekstrak disatukan dan diuapkan
hingga 1/3 volume mula-muIa, atau sampai semua metanol menguap dengan ekstraksi
menggunakan pelarut heksan atau kloroform (daIam corong pisah) dapat dibebaskan
dari senyawa yang kepolarannya rendah, seperti lemak, terpen, klorofil,
santifil dan lain-lain.
2.
Isolasi Dengan Charaux Paris
Serbuk tanaman
diekstraksi dengan metanol,lalu diuapkan sampai kental dan ekstrak kental
ditambah air panas dalam volume yang sama, Ekstrak air encer lalu ditambah
eter, lakukan ekstraksi kocok, pisahkan fase eter lalu uapkan sampai kering
yang kemungkinan didapat bentuk bebas. Fase air dari hasil pemisahan ditambah
lagi pelarut etil. asetat diuapkan sampai kering yang kemungkinan didapat
Flavonoid O Glikosida. Fase air ditambah lagi pelarut n - butanol, setelah
dilakukan ekstraksi, lakukan pemisahan dari kedua fase tersebut. Fase n-butanol
diuapkan maka akan didapatkan ekstrak n - butanol yang kering, mengandung
flavonoid dalam bentuk C-glikosida dan leukoantosianin. Dari ketiga fase yang
didapat itu langsung dilakukan pemisahan dari komponen yang ada dalam setiap
fasenya dengan mempergunakan kromatografi koLom. Metode ini sangat baik dipakai
dalam mengisolasi flavonoid dalam tanaman karena dapat dilakukan pemisahan
flavonoid berdasarkan sifat kepolarannya.
3.
Isolasi dengan beberapa pelarut.
Serbuk kering
diekstraksi dengan kloroform dan etanol, kemudian ekstrak yang diperoleh
dipekatkan dibawah tekanan rendah. Ekstrak etano lpekat dilarutkan dalam air lalu
diekstraksi gojog dengan dietil eter dan n-butanol, sehingga dengan demikian
didapat tiga fraksi yaitu fraksi kloroform, butanol dan dietil eter.
Permasalahan:
1.
Flavonoid dikatakan antiksidan karena
dapat menangkap radikal bebas dengan membebaskan atom hydrogen dari gugus
hidroksilnya. Bagaimana proses flavonoid
sehingga dapat dikatakan sebagai antioksidan?
2.
Dengan adanya gugus glikosida yang
terikat pada gugus flavonoid, flavonoid cenderung dapat mudah larut dalam air. Apa
penyebabnya? Dan bagaimana prosesnya?





No. 1.
BalasHapusFlavonoid dikatakan antioksidan karena dapat menangkap radikal bebas dengan membebaskan atom hidrogen dari gugus hidroksilnya.karena flavonoid merupakan seyawa yang mengandung vitamin E dan C, yang terkenal sebagai antioksidan. Apa yg membuat flavonoid jauh lebih bagus dari vitamin E dan C yg dikenal sebagai antioksidan juga, karena jika flavonoid tersebut memang antioksidan alami yang jika dikonsumsi tidak akan menimbulkan efek samping yg bisa menimbulkan beban baru bagi pengonsumsinya, lain halnya dengan vit E dan C yg memang diproduksi oleh pabrik-pabrik yang kita tidak tau apa itu terbuat dari kandungan vit E dan C yg semestinya atau ada bahan tambahan yg menyebabkan efek samping.
Saya akan menjawab permasalahan 1. Menurut literatur yang saya baca secara umum, Flavonoid memiliki kemampuan antioksidan yang mampu mentransfer sebuah elektron ke senyawa radikal bebas dan membentuk kompleks dengan logam. Kedua mekanisme itu membuat flavonoid memiliki beberapa efek,diantaranya menghambat peroksidasi lipid,menekan kerusakan jaringan oleh radikal bebas dan menghambat beberapa enzim (Harborne 1987). Hubungan antara total fenol dan senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan pada
BalasHapustumbuhan terutama buah-buahan adalah semakin meningkatnya konsentrasi total fenol atau senyawa flavonoid, maka semakin tinggi pula tingkat aktivitas antioksidan dari tumbuhan tersebut (Erukainure2011).
Flavonoid melakukan aktivitas antioksidan dengan cara menekann pembentukan spesies oksigen reaktif, baik dengan cara menghambat kerja enzim maupun dengan mengikat logam yang terlibat dalam produksi radikal bebas.
saya akan mencoba menjawab no 1
BalasHapusDari sumber yang saya dapat dijelaskan bahwa buah-buahan dan sayuran mengandung flavonoid, jadi dengan mengkonsumsinya akan bermanfaat bagi tubuh kita sebagai antioksidan. Mekanisme flavonoid sebagai antioksidan yaitu :
1. Flavonoid menghambat kerja enzim yang terlibat dalam reaksi produksi anion superoksida, misalnya xantin oksidase dan protein kinase.
2. sejumlah senyawa flavonoid efisien dalam mengkelat logam kelumit. logam kelumit seperti ion besi bebas dan tembaga bebas meningkatkan pembentukan spesies oksigen reaktif.
Saya akan menjawab permasalahan yg pertama Hubungan antara total fenol dan senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan pada
BalasHapustumbuhan terutama buah-buahan adalah semakin meningkatnya konsentrasi total fenol atau senyawa flavonoid, maka semakin tinggi pula tingkat aktivitas antioksidan dari tumbuhan tersebut (Erukainure2011).
Flavonoid melakukan aktivitas antioksidan dengan cara menekann pembentukan spesies oksigen reaktif, baik dengan cara menghambat kerja enzim maupun dengan mengikat logam yang terlibat dalam produksi radikal bebas.
Saya akan menjawab permasalahan 1. Menurut literatur yang saya baca secara umum, Flavonoid memiliki kemampuan antioksidan yang mampu mentransfer sebuah elektron ke senyawa radikal bebas dan membentuk kompleks dengan logam. Kedua mekanisme itu membuat flavonoid memiliki beberapa efek,diantaranya menghambat peroksidasi lipid,menekan kerusakan jaringan oleh radikal bebas dan menghambat beberapa enzim (Harborne 1987). Hubungan antara total fenol dan senyawa flavonoid dengan aktivitas antioksidan pada
BalasHapustumbuhan terutama buah-buahan adalah semakin meningkatnya konsentrasi total fenol atau senyawa flavonoid, maka semakin tinggi pula tingkat aktivitas antioksidan dari tumbuhan tersebut (Erukainure2011).
Flavonoid melakukan aktivitas antioksidan dengan cara menekann pembentukan spesies oksigen reaktif, baik dengan cara menghambat kerja enzim maupun dengan mengikat logam yang terlibat dalam produksi radikal bebas.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang kedua :
BalasHapusSenyawa flavonoid merupakan senyawa polar, kepolaran ini akan berbeda-beda terhadap berbagai pelarut sehingga harus diperhatikan dengan menggunakan pelarut yang sesuai kepolaran flavonoid yang akan diekstraksi. Umumnya flavonoid larut dalam pelarut-pelarut polar seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetil sulfoksida, dimetilformamida, air dan lain-lain. Dalam bentuk glikosida karena adanya gula yang terikat pada flavonoid menyebabkan mudah larut dalam air, dan dengan demikian campuran pelarut diatas dengan air merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosidanya. Sebaliknya, aglikon yang kurang polar seperti isoflavon, flavanon dan flavon serta flavonol yang termodifikasi, cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform.